HUTAN HILANG DEMI NIKEL ILEGAL

         

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, Indonesia memiliki tambang nikel seluas 520.877,07 hektare (ha). Tambang tersebut tersebar di tujuh provinsi, antara lain Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Celebes Island atau yang kita kenal dengan Pulau Sulawesi merupakan salah satu surga nikel bagi Indonesia. Pulau Sulawesi memiliki potensi nikel seluas kurang lebih 480 ribu hektar.

Walaupun Pulau Sulawesi memiliki cadangan nikel yang cukup melimpah, namun pada kenyataannya terdapat penambangan nikel seluas 8.400 ha di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, membabat hutan tanpa izin. Selama kurun waktu 4 tahun, nikel yang dikeruk sebanyak 36,9 juta ton senilai Rp 21.6 triliun. Meski ilegal, bijih nikel tetap terjual ke perusahaan smelter untuk diolah menjadi bahan baku baterai, lalu diekspor ke Tiongkok.

Analisis citra satelit menemukan luas penambangan nikel di Blok Mandiodo selama 2022 seluas 228.58 ha. Sedangkan luas penambangan dalam RKAB Antam yang mendapat persetujuan/izin Kementerian ESDM hanya 40 ha. Dapat dilihat dari citra satelit luas daerah yang sudah ditambang melebihi dari luar persetujuan atau sekitar melebihi 90% dari persetujuan izin yang didapatkan untuk ditambang tersebut berada di dalam kawasan hutan. “Hukuman yang akan didapatkan bagi para pelaku penambang ilegal ini akan mendapat ancaman penjara 15 tahun dan denda Rp 10 miliar” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

MARI DISKUSIKAN

Walaupun para pelaku sudah mulai terkuak, apakah penambangan nikel ilegal ini terlindungi oleh aparat penegak hukum sehingga dapat berjalan dengan aman sebelumnya? Dan melakukan jual-beli dokumen asli tapi palsu?

 

Sumber:

Majalah Tempo

https://dataindonesia.id/sektor-riil/detail/tambang-nikel-indonesia-tersebar-di-tujuh-provinsi-pada-2022

https://www.antaranews.com/berita/3252061/klhk-jerat-penambang-nikel-ilegal-di-sulawesi-tenggara