Badan Geologi ESDM meluncurkan Peta Cekungan Sedimen Indonesia pada kegiatan PIT IAGI
51th di Makassar. Dalam peta tersebut terlihat pada warna merah merupakan cekungan
berproduksi, warna ungu merupakan cekungan dengan penemuan, warna hijau tua dan muda
merupakan cekungan yang memiliki prospek, dan warna orange dan kuning merupakan cekungan
yang belum di eksplorasi.
Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) mencatat potensi minyak dan gas bumi (migas)
yang ada di tanah air sangat berlimpah. Bahkan, dalam catatan Aspermigas, cadangan minyak di
Indonesia mencapai 4,2 miliar barel.
Sekretaris Jenderal Aspermigas, Moshe Rizal menyatakan, sejatinya potensi dan cadangan migas
di tanah air sangat besar, hanya memang untuk sementara ini banyak lapangan-lapangan migas
yang belum tereksplorasi khusunya di laut-laut lepas, Indonesia Timur yang infrastrukturnya
belum terbangun sehingga membutuhkan biaya operasi yang mahal.

LALU KENAPA INDONESIA MASIH IMPOR MINYAK (PETROLEUM)?
Saat ini Indonesia memiliki 10 (sepuluh) kilang minyak, baik yang dimiliki PT Pertamina (Persero)
maupun Badan Usaha swasta lainnya dengan total kapasitas pengolahan kilang minyak adalah
sebesar 1,156 juta barrel per hari. Jumlah tersebut berasal dari Kilang yang dimiliki PT Pertamina
(Persero), yaitu Pangkalan Brandan berkapasitas pengolahan 4,5 ribu barrel per hari (sudah tidak
beroperasi sejak 2007), Dumai (127 ribu barrel per hari), Sungai Pakning (50 ribu barrel per hari),
Musi (127,3 ribu barrel per hari), Cilacap (348 ribu barrel per hari), Balikpapan (260 ribu barrel
per hari), Balongan (125 ribu barrel per hari), serta Kasim (10 ribu barrel per hari).
Dari data tersebut ternyata belum cukup untuk Indonesia memenuhi permintaan bahan bakar
minyak untuk masyarakatnya (lifting). Lifting adalah istilah teknis perminyakbumian yang artinya
hasil produksi yang telah diolah dan siap dipakai.
Pada saat kita masih ngos-ngosan kejar target lifting, konsumsi BBM kita makin menggendut.
Populasi bertambah, mobilitas makin tinggi, daya beli meningkat makin banyak orang yang punya
kendaraan. Jadi kelihatan kan jomplangnya, apa yang kita produksi dengan apa yang kita
konsumsi? Bagaimana caranya supaya konsumsi terpenuhi? Mau tidak mau ya impor BBM,
artinya harganya bakal sangat dipengaruhi harga minyak dunia.

MARI DISKUSIKAN BERSAMA!!!

JIKA DI HULU BEGITU BANYAK POTENSI MIGAS DI INDONESIA, APAKAH SELAMA INI PEMANFAATAN
MIGAS TERHAMBAT KARENA PERMAINAN DI HILIR?
APAKAH SUDAH SAATNYA UNTUK STOP MENGGUNAKAN MINYAK DAN GAS?
APAKAH SEKARANG WAKTU YANG TEPAT UNTUK INDONESIA AGAR FOKUS MENGEMBANGKAN
ENERGI BARU TERBARUKAN?